Mengenal Kimono: Pakaian Tradisional Khas Jepang

Kalau ngomongin Jepang, rasanya kurang lengkap tanpa bahas kimono. Pakaian tradisional satu ini selalu berhasil bikin orang jatuh cinta, mulai dari warna, motif, sampai cara pakainya yang elegan. Tapi sebenarnya, kimono itu bukan cuma soal penampilan lho! Di baliknya ada sejarah dan makna yang menarik banget.

Siapa sih yang nggak tau kimono? Kimono merupakan pakaian tradisional Jepang berbentuk jubah panjang dengan lengan lebar, lalu diikat pakai sabuk yang disebut obi. Kata “kimono” sendiri artinya sederhana banget, yaitu “sesuatu yang dipakai”.

Dulu, kimono dipakai sehari-hari oleh masyarakat Jepang. Tapi, sekarang kimono lebih sering dikenakan saat acara khusus, seperti festival, pernikahan, upacara minum teh, atau sekadar jalan-jalan foto-foto di area wisata.

Kimono sendiri dibuat dengan panjang yang hampir menyentuh pergelangan kaki dan berbentuk seperti huruf T, dimana kimono pria berbentuk setelan dan kimono wanita berbentuk jubah. Dalam penggunaannya, kerah baju kimono bagian kiri harus berada diatas kerah bagian kanan. Bagian perut atau pinggang akan diikat dengan kain yang disebut sebagai obi, untuk alas kaki mengguanakan Zori.

Sebenarnya kimono itu nggak cuma satu jenis, lho. Kimono terbagi menjadi beberaapa jenis berdasarkan tingkat formalitas nya. Berikut beberapa yang paling sering ditemui:

  • Furisode
    Kimono berlengan panjang, biasanya dipakai wanita muda yang belum menikah. Super anggun dan eye-catching.
  • Yukata
    Versi kimono yang paling santai. Bahannya ringan dan sering dipakai saat festival musim panas atau menginap di ryokan.
  • Tomesode
    Kimono formal untuk wanita yang sudah menikah, sering dipakai saat acara pernikahan.
  • Hōmongi
    Kimono semi-formal yang fleksibel, cocok untuk berbagai acara.
  • Komon
    Kimono bermotif kecil yang cocok untuk kegiatan santai atau harian.

Jadi kimono jenis apa yang pernah teman-teman travellers coba selagi di Jepang?

 

Kredit Gambar : JNTO